GOAL ORIENTATION PADA ATLET: KESEIMBANGAN ANTARA TASK-ORIENTATION & EGO-ORIENTATION

Atlet dapat memiiliki dua jenis goal-orientation (orientasi tujuan), yaitu task-orientation dan ego-orientation. Seorang atlet dikatakan memiliki task orientation apabila ia berfokus kepada pengembangan kemampuannya/performanya sendiri, mengeksekusi suatu skill tertentu, dan membandingkan performanya sendiri  dengan kemampuannya yang sebelumnya dan bukan dengan performa lawannya. Seorang atlet dikatakan memliki ego-orientation apabila ia membandingkan performa dirinya dengan performa atlet lain dan mempunyai tujuan untuk menjadi/terlihat lebih superior dibandingkan atlet lain, baik pada saat pertandingan ataupun pertandingan. Dapat dikatakan bahwa task-orientation lebih berfokus pada proses, sedangkan ego-orientation lebih berfokus pada hasil akhir.

Karena task-orientation lebih berfokus pada pengeksekusian suatu skill atau taktik, dan membandingkan kemampuan dirinya hanya dengan performanya yang sebelumnya, dapat dikatakan bahwa atlet dengan task-orientation yang tinggi lebih berfokus pada hal-hal yang sangat berada di dalam kontrolnya. Di lain pihak, hal-hal yang difokuskan pada atlet yang memiliki ego-orientation yang tinggi adalah hal-hal yang sedikit berada di luar kontrol atlet. Seperti yang tertulis pada paragraf sebelumnya, atlet yang mempunyai ego-orientation menilai dirinya dengan membandingkannya dengan performa atlet lain, dengan kata lain dia hanya akan menilai dirinya baik apabila saingannya memiliki performa yang lebih buruk, sedangkan permasalahannya adalah bahwa performa saingannya berada di luar kontrol sang atlet. Sebelum ada kesalah-pahaman, ini bukanlah masalah membandingkan orientasi yang mana yang lebih baik, namun lebih kepada balance daripada kedua orientasi tersebut, dan hal ini akan lebih diperjelas pada paragraf berikutnya.

Yang manakah yang lebih baik, apakah task-orientation ataukah ego-orientation? Sama seperti persoalan motivasi intrinsik dan ekstrinsik, ini bukanlah soal task-orientation vs ego-orientation, karena kemungkinan besar setiap atlet mempunyai kedua orientasi tersebut. Kedua jenis orientasi tersebut dibutuhkan oleh atlet, dengan kata lain ini hanyalah sebuah soal balance. Task-orientation dibutuhkan oleh atlet agar ia dapat fokus pada skill dan taktik yang harus dia lakukan demi meningkatkan kemampuannya sendiri, sedangkan ego-orientation dibutuhkan oleh atlet dalam situasi tertentu untuk memberikan motivasi tambahan, karena setiap atlet pasti memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik dibandingkan saingannya, dan persaingan bisa menjadi motivator yang baik. Balance yang baik tentunya adalah task-orientation sebagai porsi yang lebih besar (fokus pada hal-hal yang berada di dalam kontrol) dan ego-orientation sebagai porsi yang lebih kecil.

Bagi atlet, mengidentifikasi keseimbangan antara task-orientation dan goal-orientation sangatlah penting sebagai sarana evaluasi agar atlet dapat menyeimbangkan kedua orientiasi tersebut dengan baik sehingga ke depannya atlet dapat meningkatan performanya karena mampu memfokuskan dirinya pada hal-hal yang paling esensial pada berbagai macam kondisi dan situasi. Pelatih dan psikolog olahraga/pelatih mental juga perlu membantu/memfasilitasi sang atlet dalam mengevaluasi dirinya dalam hal ini demi mendapatkan balance yang terbaik.

MOTIVASI DALAM PSIKOLOGI OLAHRAGA: SEBUAH PENDAHULUAN

Motivasi adalah sebuah terminologi yang sangat ‘terkenal’ dan cenderung menjadi salah satu kata kunci yang terutama apabila membahas mengenai kesuksesan di berbagai macam aspek kehidupan, seperti kesuskesan dalam bisinis dan tentu saja dalam hal ini, olahraga. Seberapa termotivasinya seorang atlet dapat dilihat dari arah dan intensitas usaha yang dilakukan oleh atlet tersebut (berdasarkan definisi dari Sage,1977). Sebagai contoh, apabila ada seorang atlet tenis amatir yang ingin masuk ke pertandingan internasional dan dia latihan setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat masing-masing selama 2 jam, maka bisa dikatakan bahwa pertandingan internasional merupakan arah dari motivasinya, dan latihannya yang keras merupakan intensitas usahanya untuk mencapai hal yang diinginkan.

Seorang atlet dapat termotivasi baik secara intrinsik (dari dalam diri atlet) dan juga ekstrinsik (dari luar), dan sebelum ada kesalahan, perlu diketahui bahwa termotivasi secara ekstrinsik tidak selalu salah. Seorang atlet dapat dikatakan termotivasi secara intrinsik apabila dia melakukan aktivitasnya karena kesenangan terhadap olahraga itu sendiri, kesenangan dalam berkompetisi dan memiliki keinginan untuk mempelajari sesuatu yang baru untuk meningkatkan performanya. Seorang atlet dapat dikatakan termotivasi secara ekstrinsik apabila dia melakukan aktivitasnya karena ingin mendapatkan reward dari luar, seperti uang, beasiswa, pengakuan dari orang lain, dsb. Seperti yang ditulis di awal paragraf termotivasi secara ekstrinsik tidak selalu salah. Atlet biasanya memiliki dua jenis motivasi tersebut. Seserang mungkin menjadi atlet sepak bola profesional karena dia memang sangat menyukai olahraga tersebut (motivasi intrinsik) dan juga karena uang yang diperolah dari olahraga tersebut dapat berjumlah cukup besar (motivasi ekstrinsik). Persoalannya bukanlah motivasi intrinsik vs ekstrinsik, karena bisa dikatakan bahwa kedua jenis motivasi tersebut dibutuhkan,namun lebih kepada porsi dari masing-masing jenis motivasi tersebut. Tentu saja akan lebih baik apabila porsi motivasi intrinsik menjadi porsi yang lebih besar dibandingkan motivasi ekstrinsik. Penting bagi atlet untuk benar-benar mengevaluasi diri mengenai sejauh mana ia termotivasi secara intrinsik dan seberapa jauh ia termotivasi secara ekstrinsik sehingga mampu menyeimbangkan motivasinya dalam porsi yang proporsional antara intrinsik dan ekstrinsik. Penting juga bagi pelatih dan psikolog olahraga/pelatih mental untuk mengetahui motivasi yang dimiliki oleh atletnya sehingga mampu membantu sang atlet lebih banyak dalam hal motivasi melalui feedback dan desain latihan.

Selain motivasi intrinsik dan ekstrinsik, perlu diketahui juga bahwa motivasi atlet secara keseluruhan dipengaruhi oleh faktor personal (berasal dari dalam diri atlet) dan faktor situasional. Faktor personal contohnya adalah seperti kepribadian, serta kebutuhan dan tujuan personal dari atlet. Faktor situasional contohnya adalah seperti gaya kepelatihan, jenis latihan, dan hubungan dengan rekan tim atau pelatih. Kedua faktor tersebut (personal dan situasional) saling berinteraksi satu sama lain, jadi penting juga untuk atlet mengidentifikasi faktor personal dan situasional yang mempengaruhi motivasinya sendiri. Penting juga bagi pelatih dan psikolog olahraga/pelatih mental untuk khususnya mengenal faktor personal dari atlet sehingga bisa menciptakan situasi latihan yang dapat meningkatkan motivasi atlet dan membantu atlet menghadapi masalah yang bersifat psikologis.

Artikel ini hanya sebagai pendahuluan mengenai topik ‘motivasi’. Topik mengenai ‘motivasi’ akan dibahas secara lebih mendetail pada post-post yang akan datang.

MENJADI PSIKOLOG OLAHRAGA / PELATIH MENTAL DI INDONESIA?

Bagaimana menjadi psikolog olahraga/pelatih mental di Indonesia? Untuk sementara (saat artikel ini ditulis), ilmu psikologi olahraga sedang dalam tahap perkembangan. Sudah ada beberapa psikolog/praktisi psikologi yang telah membantu kemajuan olahraga di Indonesia walaupun tidak mempunyai gelar formal dalam psikologi olahraga karena memang di Indonesia sendiri untuk sementara tidak ada gelar magister untuk psikologi olahraga (semoga di masa depan ada). Untuk sementara jika ingin mendapatkan pendidikan formal dalam psikologi olahraga maka harus ke luar negri, namun apabila ingin tetap kuliah di Indonesia karena beberapa alasan, apa yang bisa dilakukan?

Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan tetap mengambil gelar magister yang tersedia di Indonesia, seperti psikologi pendidikan dan psikologi klinis, karena teori-teori dalam cabang ilmu tersebut bisa saja diaplikasikan ke dalam setting olahraga, sambil belajar secara ototdidak dengan membaca teori-teori psikologi olahraga dari internet, e-journal, dan buku (sepertinya apabila ingin membaca buku harus pesan di internet, karena kecil kemungkinannya untuk menemukannya di toko buku seperti gramedia) atau download e-book dari internet. Dalam blog ini, di bagian website” , saya telah menyediakan beberapa website yang saya harap dapat membantu (saya akan memasukkan lebih banyak lagi). Pada akhirnya, ilmu yang didapat dari kuliah S2 dan pembelajaran secara ototdidak dapat diintegrasikan sehingga dapat diterapkan secara nyata ke dalam setting olahraga. Sebagai tambahan mungkin juga bisa mengikuti kursus NLP.

Akademik adalah persoalan pertama, persolan ke-2 adalah mengenai lapangan pekerjaan. Adakah lapangan pekerjaan di bidang psikologi olahraga? Jawabannya: ADA, walaupun memang dibutuhkan usaha yang lebih untuk mendapatkan pekerjaan dalam bidang psikologi olahraga. Adanya beberapa praktisi psikologi yang bekerja membantu olahraga di Indonesia adalah bukti bahwa, sekecil apapun itu, tetap ada peluang dalam bidang psikologi olahrag. Tetap berjuang, jangan menyerah. Salah satu bukti nyata yang terkini adalah Guntur Utomo yang berhasil menjadi pelatih mental timnas sepak bola Indonesia u-19 dan. Guntur Utomo berhasil karena dia terus berjuang untuk psikologi olahraga. Di PBSI juga terdapat divisi psikologi olahraga. Terkadang penerapan ilmu psikologi olahraga tidak selalu harus di lapangan secara langsung, namun bisa di sebuah organisasi olahraga (PBSI, KONI, dsb.). Alternatif lain adalah dengan membuat organisasi konsultasi sendiri yang bergerak dalam bidang psikologi olahraga yang menyediakan jasa workshop/training bagi para atlet dan juga pelatih olahraga dalam hal keterampilan psikologis. Contoh yang bagus untuk hal ini adalah seperti yang dilakukan oleh Edgar Tham, pioneer psikologi olahraga di Singapur. Organisasi yang dia dirikan bernama sportpsych-consulting (silahkan buka: http://www.sportpsychconsulting.com).

Yang harus dilakukan mulai sekarang adalah dengan mempublikasikan psikologi olahraga secara besar-besaran sehingga mampu lebih menyadarkan dunia olahraga di Indonesia akan perlunya psikolog olahraga/pelatih mental. Dengan begitu diharapkan dibukannya program magister psikologi olahraga dan berbagai macam lapangan pekerjaan. Mari kita teruskan apa yang para praktisi psikologi sebelumnya telah lakukan untuk perkembangan olahraga di Indonesia. Mari terus berjuang.

GOAL SETTING DALAM PSIKOLOGI OLAHRAGA: 2 JENIS GOAL-SETTING

Dalam segala aspek kehidupan, goal setting (penetapan sasaran/tujuan) merupakan sesuatu yang terus menerus disarankan demi mencapai kesuksesan. Kesuksesan itu sendiri ada berbagai macam, seperti sukses dalam pekerjaan, sukses dalam bisnis, sukses dalam hal finansial, sukses dalam mencapai impian, dan tentu saja dalam hal ini, sukses dalam dunia olahraga, baik itu dalam olahraga kompetitif maupun olahraga rekreasi. Goal setting sangat disarankan karena memang efektif dalam proses mencapai tujuan yang atlet ingin raih. Well, kenapa goal setting sedemikian efektif? Menurut Locke & Latham (2002), goal setting sangat efektif karena dapat mempengaruhi/membantu atlet melalui 4 cara berikut, yaitu:

  1. Memberi atensi/perhatian dan fokus pada hal-hal yang memang penting/yang menjadi sebuah prioritas
  2. Memberikan dorongan pada para atlet untuk lebih berusaha
  3. Mempertahankan kegigihan para atlet
  4. Membantu mengembangkan strategi pembelajaran yang baru

Artikel ini akan membahas 2 cara menetapkan tujuan dalam olahraga, yaitu:

  1. SMART-Goal Setting (kebanyakan orang mengenal cara ini untuk mentapkan tujuan dalam berbagai aspek kehidupan)
  1. Outcome,Performance,Process-Goal Setting

Mari kita lihat masing-masing kedua cara membuat goal-setting dalam olahraga.

SMART-Goal Setting  (Specific, Measurable, Achievable & Realistic, Time-based.)

SPECIFIC:

Goal-setting atau penetapan tujuan akan lebih baik apabila bersifat spesifik. Penetapan tujuan seperti “melakukan yang terbaik” bukanlah tujuan yang spesifik karena “melakukan yang terbaik” tidak bisa menunjukkan apa itu yang dimaksud dengan yang “terbaik”; apakah dalam hal stamina, teknik, atau taktik. Memang ada keadaan dimana goal-setting hanya bisa bersifat subjektif, namun sebisa mungkin ini dijadikan pengecualian dan lebih sering menetapkan tujuan yang se-spesifik mungkin. Contoh goal-setting yang lebih spesifik adalah “menguasai teknik smash yang tajam seperti yang didemonstrasikan oleh atlet badminton x”. Contoh lain darigoal-setting yang lebih spesifik lagi adalah “mencetak 2 gol pada pertandingan berikutnya”. Goal-setting macam itu juga jelas karena menunjukkan bahwa tujuan dianggap berhasi dicapai apabila berhasil mencetak 2 gol pada pertandingan berikutnya. Contoh ini juga sekalian menunjukkan bahwa suatu tujuan haruslahmeasurable.

MEASURABLE

Penetapan tujuan haruslah measurable (dapat diukur). Tujuan seperti “mencetak 2 gol dalam pertandingan berikutnya” adalah goal yang spesifik dan juga sekaligus mudah dapat diukur (2 gol). Bagaimana cara mengukur apabila tujuannya adalah “menguasai teknik smash yang tajam seperti yang didemonstrasikan oleh atlet badminton x”? Contoh tolak ukur yang bisa dilakukan adalah seperti; berhasil melakukan smash yang sesuai harapan sebanyak 10 kali beruturut-turut saat latihan. Contoh tersebut memberikan tolak ukur bahwa tujuan dianggap telah tercapai apabila bisa melakukan smash seperti yang diinginkan sebanyak 10 kali berturut-turut.

REALISTIC & ACHIEVABLE

Sebuah tujuan haruslah realistis dan memang mampu dicapai apabila latihan dengan sangat keras. Tujuan yang realisits adalah sebuah tujuan yang memang dalam jangka waktu tertentu dapat diraih dengan latihan keras yang maksimal. Contoh tujuan yang realistis adalah “lolos seleksi timnas” saat atlet tersebut memang sudah banyak mengasah diri di berbagai pertandingan liga dan berlatih secara keras. Contoh tujuan yang TIDAK realistis adalah (ini contoh sangat ekstrim, namun ini hanya untuk Outcome Goal

memberikan sebuah gambaran) “menjadi dribbler yang sehebat Messi dan Ronaldo dalam jangka waktu 5 hari (padahal baru mulai bermain bola secara serius selama seminggu). Kecuali atlet ini memang memiliki talenta yang sangat luar biasa, hal tersebut kecil kemungkinannya untuk dapat diraih. Tujuan itu tentu saja dapat diraih oleh atlet tersebut, namun mungkin tidak dalam jangka waktu sesingkat itu. Contoh sesuatu yang lebih realistis mungkin “menjadi dribbler sehebat Messi dan Ronaldo dalam jangka waktu x tahun” dan atlet tersebut sudah mulai bermain bola secara serius sejak umur 8 tahun; apabila kondisinya seperti itu maka tujuan macam itu lebih realistis. Penting untuk diperhatikan bahwa realistis bukanlah pesimistis. Atlet memang memang lebih baik bermimpi setinggi-tingginya dan tujuan tersebut harus ditetapkan dalam jangka waktu yang memang realistis.

TIME-BASED

Secara sederhana, time-based berarti bahwa atlet mempunyai waktu kapan tujuan itu ingin dicapai. Tujuan tersebut dapat berupa skill ataupun prestasi yang ingin diraih dalam jangka waktu tertentu. Misalnya menguasai sebuah skill dalam waktu 2 minggu atau setelah 3 pertandingan. Perlu diperhatikan lagi bahwa penetapan waktu untuk mencapai suatu tujuan tertentu juga harus realistis.

OUTCOME,PERFORMANCE,PROCESS-GOAL SETTING

Saat atlet bertanding tentu saja keinginannya adalah untuk menang dan memang penting untuk menetapkan tujuan untuk menang (outcome goal) dan bertanding semaksimal mungkin agar benar-benar menang, bukan hanya dalam pertandingan, namun juga dalam latihan. Menetapkan tujuan untuk menang memang penting, namun itu seharusnya bukanlah satu-satunya tujuan yang seharusnya ditetapkan oleh atlet. Tujuan-tujuan lain apakah yang harusnya atlet tetapkan dalam penetapan tujuan baik dalam mengahdapi pertandingan dan bahkan juga latihan?

OUTCOME GOAL

Outcome-goal adalah suatu bentuk tujuan yang fokus pada hasil akhir suatu situasi yang bersifat kompetitif. Contoh dari outcome-goal adalah menang, juara, dan ranking pertama dalam suatu lomba, pertandingan, turnamen, atau bahkan latihan.

PERFORMANCE GOAL

Performance-goal adalah suatu bentuk penetapan tujuan yang berfokus padaperforma spesifik atlet dalam suatu situasi kompetitif dan bukan semata-mata pada hasil akhir. Contoh dari performance-goal adalah, “sukses memberikan minimal 10 assisst dalam  pertandingan basket”,  “sukses melakukan smash minimal sebanyak 10 kali dalam pertandingan badminton”, “mencetak 1 gol dalam sebuah pertandingan sepak bola”, “menaikkan waktu lari selama 10 menit setiap minggunya untuk persiapan marathon”, atau juga bisa seperti, “berhasil mengeksekusi strategi yang didiskusikan bersama pelatih”. Performance-goal baik dilakukan untuk meningkatkan kualitas dalam latihan, bukan hanya pertandingan.

PROCESS GOAL

Process-goal adalah suatu bentuk penetapan tujuan yang berfokus pada tindakan-tindakan kecil namun penting yang harus dilakukan oleh atlet agar dapat menunjukkan performa yang diinginkan atau sesuai standar yang telah ditetapkan. Contoh dari process-goal adalah “selalu kembali ke titik tengah lapangan setelah memukul shuttlecock dalam badminton”, “menjaga ketenangan sepanjang pertandingan dengan menarik nafas apabila mulai terasa panik atau tegang”,  “mencondongkan lengan ke arah lawan saat dalam situasi one on one dalam basket”.

Penting untuk menetapkan outcome goal, dan sangat penting juga untuk menetapkan performance & process goal juga. Bisa dilihat bahwa outcome goal merupakan tujuan akhir, sedangkan performance & process goal adalah cara-cara yang dapat dilakukan demi meningkatkan kemungkinan untuk mencapai tujuan akhir yang diinginkan. Penetapan performance & process goal memungkinkan atlet untuk memonitor diri dengan detail di akhir pertandingan atau latihan, baik dengan hasil akhir menang ataupun kalah. Atlet akan mampu mengevaluasi diri mereka mengapa mereka bisa menang ataupun kalah dan mengidentifikasi apa yang bisa ditingkatkan. Keuntungan lain dalam menetapkan performance & process goal adalah bahwa tujuan-tujuan tersebut lebih di dalam kontrol atlet dibandingkan outcome goal, sehingga mampu menurunkan kecemasan. Salah satu faktor yang meningkatkan kecemasan adalah kurangnya perceived control, atau persepsi seseorang mengenai sejauh mana seseorang merasa bahwa dia mempunyai kontrol atas suatu situasi/kondisi.

Goal-setting macam apakah yang paling baik dilakukan oleh atlet, SMART-Goal setting ataukah Outcome-Performance-Process Goal setting? Kedua-duanya baik dilakukan oleh atlet. Atlet dapat memilih sendiri dan bahkan atlet dapat mengintegrasikan dua jenis goal-setting tersebut untuk dapat memaksimalkan performa mereka. Ada baiknya goal-setting dilakukan untuk kebutuhan pertandingan dan juga latihan. Goal-setting tidak hanya berguna untuk atlet, namun akan lebih baik juga apabila para pelatih juga membuat goal-setting untuk lebih memaksimalkan kualitas metode kepelatihan mereka.

SEKILAS MENGENAI PSIKOLOGI OLAHRAGA

Psikologi olahraga dapat dimengerti sebagai sebuah cabang dalam ilmu psikologi yang mempelajari tentang pikiran dan perilaku (baik dari atlit dan pelatih) dalam konteks olahraga. Dua fokus utama dari psikologi olahraga adalah:

1. Melihat efek faktor psikologis terhadap performa partisipan olahraga dalam segi fisik dan motorik.

contoh: Efek mental imagery terhadap tingkat keberhasilan dalam mengeksekusi smash dalam badminton.

2. Melihat efek partisipasi dalam olahraga terhadap perkembangan psikologis partisipannya.

contoh: Efek partisipasi dalam fitness group terhadap penurunan tingkat stres / depresi

Di Eropa dan Amerika, ilmu psikologi olahraga sudah sering sekali diterapkan. Tim-tim profesional, bahkan tim-tim tingkat universitas, di negara-negara tersebut sudah sering menggunakan jasa psikolog/praktisi psikologi olahraga untukmeningkatkan performa timnya dan terbukti berhasil. Jasa psikolog/pakar psikologi olahraga sudah sangat diakui dan terbukti berhasil. Seorang psikolog/praktisi psikologi olahraga bisa fokus dalam area konsultasi, penelitian, dan juga pendidikan.

Seseorang yang berkecimpung dalam spesialisasi ini (contoh: psikolog olahraga/praktisi psikologi olahraga) juga terkadang disebut sebagai “mental coach. Seorang “mentalCOACH” membantu dan mengedukasi atlet DAN pelatih dalam hal meningkatkan keterampilan psikologis mereka, seperti konsentrasi, arousal and emotional-regulation, mental imagery (visualisasi), goal setting, confidence-building techniques (peningkatkan kepercayaan diri), anxiety-reducing techniques (menurunkan kecemasan), motivasi, dan keterampilan psikologis lainnya,  baik melalui sesi individual maupun grup, demi meningkatkan performa para atlet. Terkadang bahkan seorang psikolog/praktisi psikologi olahraga juga membantu dalam penanganan yang bersifat klinis terhadap bebagai macam disorder yang dialami oleh para atlet (contoh: eating disorder).

Bagaimana dengan keadaan psikologi olahraga di Indonesia? Untuk sekarang psikologi olahraga di Indonesia masih dalam tahap perkembangan. Sudah ada beberapa orang dari bidang psikologi yang telah membantu olahraga Indonesia dari segi psikologis, seperti (alm.) Prof.Dr. Singgih Dirgagunarsa, Drs. Monty P. Satiadarma, dan Guntur Utomo. Nama-nama yang disebutkan hanyalah contoh dari beberapa orang-orang terhormat yang telah berkecimpung di dunia psikologi olahraga dan membantu dalam meningkatkan performa para atlet di Indonesia; masih ada beberapa orang lain yang telah berjasa dalam membantu peningkatan performa para atlet Indonesia dari segi psikologis. Orang-orang tersebut bukan hanya berjasa dalam membantu meningkatkan performa atlet tapi juga dalammemperkenalkan psikologi olahraga di indonesia.

Psikologi olahraga sebenarnya bukan sesuatu yang teramat asing dalam dunia olahraga di Indonesia. Dalam kursus-kursus sertifikasi pelatih terdapat modul psikologi olahraga. Dalam kuliah jurusan olahraga juga terdapat mata kuliah psikologi olahraga. Yang kurang adalah jurusan psikologi olahraga sebagai spesialisasi dalam ilmu psikologi. Modul dan mata kuliah psikologi olahraga memang sangat membantu para pelatih, namun peran seorang psikolog/praktisipsikologi olahraga/”mental coach dalam sebuah tim/organisasi olahraga tetaplah sangat penting demi menolong para atlet untuk mencapai performa yang semaksimal mungkin.

Peran seorang psikolog/pakar psikologi olahraga/”mental coach sangatlah penting dalam peningkatan performa para atlet. Psikologi olahraga sedang berkembang di Indonesia dan sangat diharapkan dapat sepenuhnya diakui dan dipakai demi meningkatkan kualitas olahraga di Indonesia. Diharapkan juga ilmu psikologi olahraga  diakui sepenuhnya bukan hanya dalam olahraga  kompetitif, namun juga olahraga rekreasi (contoh: fitness, pelajaran olahraga) demi meningkatkan tingkat partisipasi dan kesejahteraan jiwa para partisipannya.

Blog ini diharapkan dapat lebih lagi mempublikasikan ilmu psikologi olahraga di Indonesia. Blog ini akan membahas berbagai topik mengenai ilmu psikologi olahraga dan diharapkan dapat memberikan informasi tambahan yang berguna.

SELAMAT DATANG DI JONASSAHSPORTPSYCH!